Disbudpar Aceh Gelar Roadshow Budaya di SMK Banda Aceh

 

View this post on Instagram

 

Road Show Budaya di SMKN 1,2,3 Banda Aceh

A post shared by Namaku Budaya (@estafetbudayaaceh) on


BANDA ACEH – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, melalui Bidang Budaya menggelar, Roadshow Budaya dari 12 hingga 25 September 2019.

Kegiatan yang mengusung tema “Milenial Aceh Bicara Budaya” pada Selasa (17/9/2019) digelar di Aula Sekolah Keguruan Menengah (SMK) 1,2, dan 3 di Banda Aceh.

Menjadi pembicara pada roadshow tersebut, Kasie Nilai Budaya Disbudpar Aceh, Evi Mayasari, Bloger Aceh, Irma Hafni, dan sineas muda dari Aceh Documentary, Akbar Rafsanjani. Dipandu MC Cut Raisa dan Rahmat Soad.

Kasie Nilai Budaya Disbudpar Aceh, Evi Mayasari mengatakan, di depan sekitar 150 pelajar dari SMK 1,2, dan 3, Roadshow Budaya digelar ke sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi, tak lain untuk merangsang hal-hal positif remaja Aceh agar mengenal budaya endatunya. Sebab menurut Evi, sejauh ini remaja Aceh mulai diserang oleh budaya luar baik lewat media film maupun informasi digital lainnya.

Evi mencontohkan seperti film korea yang mulai banyak sekali generasi muda Aceh. Jika hal ini terus dibiarkan, kata Evi, bukan tidak mungkin anak muda Aceh akan lebih mengenal budaya (kuliner, fashion, kehidupan sosial, dan bahasa) masyarakat Korea dari pada budayanya sendiri.

“Kita mengajak milenial Aceh untuk terlibat dan berpartisipasi secara aktif dalam mengaktualisasi nilai budaya Aceh dalam kehidupannya sehari-hari, serta menginformasikan Budaya Aceh melalui media sosial, agar masyarakat dalamn dan luar negeri dapat menyerap informasi dengan baik, ” imbuh Evi.

Selanjutnya Evi mengatakan, melihat kondisi ini Disbudpar, melakukan Roadshow Budaya untuk meminimalisir hal-hal tersebut. Dan membuka ruang-ruang kreatifitas supaya mereka (anak muda Aceh) tidak terjebak dengan kondisi sekarang ini.

Sebelumnya, Disbudpar Aceh melalui bidang Budaya telah melakukan penelitian kecil, siapa milenial itu menurut para ahli. Imbuh Evi, milenial, mereka yang lahir pada tahun 1976-2000 dan ada juga para ahli yang mengkategorikan pada usia 16 sampai dengan 37 tahun.

“Kita menyimpulkan milenial anak pada usia produktif . Kami cari ciri-ciri milenial itu kesukaan apa. Ternyata milenial melek teknologi. Tidak terlepas dari medsos dan teknologi. Dari sinilah pendekatan itu dilakukan, memberikan pemahamaan nilai budaya. Kita ajak anak-anak kita menggunakan ruang kreatifitas ke arah yg positif, kita sesuaikan informasi lewat medsos secara kreatif, lewat photo konten ide, penulisan, dan film pendek. Sehingga nanti diharapkan generasi muda Aceh dapat mebawa identitas Aceh ke anak cucu seterusnya,” ujar Evi.

Masih kata Evi, dari hasil penelitian, masih ada anak-anak Aceh yang tidak mengerti dan bisa berbicara dengan Bahasa Aceh. “Jika milenial Aceh mengenal budaya, mereka akan ikut menginformasikan budayanya lewat media sosial. Akan ada banyak masyarakat dunia mengetahui budaya Aceh lewat mereka. Ini juga sesuai Visi dan Misi Gubernur, Aceh hebat Aceh meuadab,” ujarnya.

Evi berharap, generasi muda Aceh, mengenal budaya mereka tidak hanya dari kulit luarnya saja. Harus tau identitas mereka apa. Apa permainan tradisional, kuliner, tarian, dan lainnya. Kemudian mempraktekan nilai-nilai budaya dalam kehidupannya sehari-hari.

Roadshow Budaya sudah dilakukan sejak 12 September lalu dengan peserta siswa dari sekolah di Banda Aceh, SMAN 1, SMAN 7, MAN 1 Model. Sedangkan Aceh Besar, SMK Darul Kamal dan SMAN 1 Unggul Darul Imarah.

Pada 18 September di Aula FKIP Unsyiah dengan peserta mahasiswa FKIP sejarah Unsyiah. Pada 23 September di Aula UIN Ar Raniry dengan peserta mahasiswa dari jurusan KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Kemudian pada 25 September roadshow digelar di aula Universitas Muhammadiyah Aceh.

Kata Milineal Aceh1. Muhadhir (17) siswa SMKN 2, Banda Aceh: saya ingin mengenalkan ragam budaya Aceh baik itu kuliner, tarian, dan lainya lewat photo dan tulisan yang akan saya publis melalui akun IG milik saya. Seraya saya juga mengenalkan pada dunia, saya juga akan lebih mencintai budaya saya sendiri, “.

2. Alicya (16) SMKN 3 Banda Aceh: “Saya memiliki media sosial IG, Twitter, Wattpad. Dengan mengikuti Roadshow Budaya ini, hati saya tergerak ingin mengenal budaya endatu saya lebih dalam lagi. Saya akui, saya belum begitu lancar berbahasa Aceh, meski saya anak Aceh. Tapi saya tergerak ingin mengajak kawan-kawan saya mempergunakan bahasa Aceh. Saya juga ingin bikin video flog saya tentang budaya Aceh ya g akan saya publis lewat media sosial milik saya. Saya ingin membuat masyarakat dunia mengenal Aceh lebih dekat lagi lewat budaya, sehingga nanti bisa menepis anggapan bahwa masyarakat Aceh sangat memuliakan tamu, jadi tidak perlu takut datang ke Aceh. Aceh tidak seseram yang dibayangkan. Aceh itu aman dan kondusif untuk didatangi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 1 =